Ketua Dewan Redaksi
Dr. Farid, dr., Ir., SpOG(K), M.Kes., M.H.Kes.

Dewan Redaksi
- Prof. Hidayat Wijayanegara, dr., SpOG(K)
- Prof. Dr. Undang Santosa, Ir., M.S.
- Dr. Anita Deborah Anwar, dr., SpOG(K)
- Achmad Suardi, dr., SpOG(K), S.H., M.H.
- Ma'mun Sutisna, Drs., S.Sos., M.Pd.

Alamat Redaksi
Akademi Kebidanan Medika Obgin
Jl. P.H.H. Mustofa no.58 Bandung
Tel. / Fax. : 022-7200035 
e-mail : redaksi@jurnalpendidikanbidan.com
Facebook MySpace Twitter Google Bookmarks 

MO-KTI-0312-2012


PENGETAHUAN DAN SIKAP KADER TENTANG PERAN SERTA

DALAM KEGIATAN POSYANDU SEBELUM  DAN SETELAH PENYULUHAN

DI DESA BOJONGMEKAR KECAMATAN CIPEUNDEUY

KABUPATEN BANDUNG BARAT


Hapsary W, Farid, Aryuti S
Program Studi Diploma III Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Abstrak
Mengingat keberhasilan program posyandu diperan utamakan oleh kader posyandu, maka pengetahuan kader tentang tugas dan peran sertanya sangat  penting untuk terbentuknya sikap seorang kader. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap kader tentang peran serta kader dalam kegiatan posyandu sebelum dan setelah penyuluhan. Metode yang digunakan adalah metode analitik pre-experimental (one  group pretest-posttest design), data primer melalui kuesioner yang diisi oleh 34 responden kader aktif Desa Bojongmekar. Pengolahan data menggunakan program SPSS uji T kelompok berpasangan dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan sebelum diberikan penyuluhan, kader yang memiliki pengetahuan baik sebesar 26 % sedangkan setelah diberikan penyuluhan pengetahuan baik menjadi sebesar 88%. Sebelum penyuluhan yang memiliki sikap positif sebesar 68% sedangkan setelah penyuluhan sikap positif menjadi sebesar 91%. Berdasarkan uji statistik terdapat perbedaan yang bermakna (p < 0,05).

Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Peran Serta Kader

1.    Pendahuluan
Keberhasilan suatu bangsa tergantung pada keberhasilan pembangunan manusianya. Pembangunan yang akan datang memerlukan peningkatan mutu manusia masa depan yang semakin tangguh. Keberhasilan pembangunan dibidang kesehatan tergantung pada keberhasilan dalam membina masyarakat agar mampu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dalam bentuk peran serta. Mengembangkan pengertian kesadaran, kemampuan dan prakarsa masyarakat perlu dilakukan,dalam arti masyarakat berperan serta aktif dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kesehatan. Pembangunan dibidang kesehatan ini lebih diarahkan pada upaya dalam menurunkan angka kematian ibu, bayi, anak balita dan angka kelahiran. Secara operasional, ditingkat desa/kelurahan, upaya untuk menurunkan angka kematian bayi, balita dan angka kelahiran terutama dilakukan melalui Posyandu. Posyandu diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat, sehingga masyarakat sendiri yang aktif membentuk, menyelenggarakan dan memanfaatkan posyandu sebaik-baiknya atau dengan kata lain peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam pemanfaatan posyandu.  Dalam upaya pelayanan posyandu tidak dapat dicapai hanya lewat usaha kesehatan saja, tetapi harus disertai upaya bidang lain : ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya.
Posyandu diwilayah kerja Desa Bojongmekar sebanyak 9 posyandu. Berdasarkan studi pendahuluan diperoleh data, Pada tahun 2011 di Desa Bojongmekar memiliki kader sebanyak 53 orang. Masing-masing posyandu memiliki jumlah kader yang beragam. Dari ke-53 orang kader posyandu tersebut, hanya 34 orang (64%) saja yang aktif dan 18 orang kader (36%) yang tidak aktif. Peningkatan pengetahuan tersebut dapat melalui berbagai cara salah satunya melalui sarana pendidikan baik formal maupun nonformal. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap yang makin positif terhadap suatu objek.

2.2 Tinjauan Pustaka
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang tersebut melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat melainkan dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Salah satu aspek yang sanagat penting guna memahami sikap dan perilaku manusia adalah masalah pengungkapkan (assessment) atau pengukuran (measurement) sikap. Sax menunjukkan beberapa karekteristik (dimensi) sikap yaitu arah, intensitas, keleluasan, konsistensi dan spontanisme. Berikut akan diuraikan dimensi-dimensi tersebut.
Kader posyandu adalah seorang yang dipilih oleh pengurus posyandu dari anggota masyarakat yang bersedia, mampu dan memiliki waktu untuk menyelenggarakan kegiatan posyandu. Kader posyandu menyelenggarakan kegiatan posyandu secara sukarela. Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Istilah dan pengertian promosi kesehatan adalah merupakan pengembangan dari istilah pengertian yang sudah dikenal selama ini, seperti : Pendidikan Kesehatan, Penyuluhan Kesehatan, KIE (Komunikasi, Informassi dan Edukasi). WHO merumuskan promosi kesehatan sebagai proses untuk meningkatkan kesehatnannya. Selain itu, untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial masyarakat harus mampu mengenal, mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, serta mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya.

3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan analitik yaitu pre-experimental ( one group pretest-posttest design). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kader aktif di posyandu Desa Bojongmekar sejumlah 34 orang. Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah total sampling yaitu seluruh kader aktif di Desa Bojongmekar dari 9 posyandu.
Analisa dilakukan secara univariat menggunakan statistik sederhana. Berdasarkan hasil persentase yang diperoleh, tingkat pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu : baik    = 76%-100% soal yang dijawab benar, cukup= 56%-75% soal yang dijawab benar , kurang    = <56% soal yang dijawab benar. Sedangkan untuk sikap, diukur melalui kuesioner yang penilaiannya menggunakan Skala Likert. Pada skala ini, ada 2 tipe pertanyaan, yaitu yang bersifat positif terhadap masalah yang diteliti, dan ada yang bersifat negatif. Analisis ini untuk mengetahui perbedaan yang terjadi dari variabel pengetahuan dan sikap kader sebelum dan setelah penyuluhan dengan menggunakan uji statistik yaitu uji t kelompok berpasangan, karena kedua kelompok sampel yang dibandingkan mempunyai subyek yang sama. Uji alternatif uji t berpasangan dilakukan melalui Uji McNemar dan Uji Marginal homogeneity atau Wilcoxon. Hasil kemaknaan dilihat berdasarkan perhitungan statistik menggunakan program SPSS, batasan kemaknaan ditentukan dengan cara membandingkan nilai p dengan (alpha).

4.4 Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan kepada seluruh kader posyandu yang aktif yaitu 34 orang. Kader posyandu tersebut terbagi dalam 9 posyandu di Desa Bojongmekar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Bojongmekar didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap kader tentang peran serta kader dalam kegiatan posyandu. Ditemukan sebelum diberi penyuluhan bahwa dari 26% kader posyandu yang mempunyai pengetahuan baik, setelah diberikan penyuluhan menjadi 88%. Perubahan pengetahuan tersebut telihat pula pada kader yang memiliki pengetahuan dengan kriteria kurang sebelum diberikan penyuluhan dari 11 kader, 3 orang (42,85%) berubah menjadi berpengetahuan baik. Hal tersebut ditemukan terdapat perubahan yang bermakna antara pengetahuan kader tentang peran serta sebelum dan setelah diberikan penyuluhan di Desa Bojongmekar.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Bojongmekar didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan sikap kader tentang peran serta kader dalam kegiatan posyandu sebelum dan setelah diberikan penyuluhan. Ditemukan sebelum diberi penyuluhan bahwa dari 68% kader posyandu yang mempunyai sikap positif, setelah diberikan penyuluhan menjadi 91%. Perubahan sikap tersebut telihat pula pada kader yang memiliki sikap negatif sebelum diberikan penyuluhan dari 11 kader, 8 orang (72,72%) berubah memiliki sikap positif. Hal tersebut ditemukan terdapat perubahan yang bermakna antara sikap kader tentang peran serta sebelum dan setelah diberikan penyuluhan di Desa Bojongmekar. Pendapat dari Depkes RI (1990) yang mengatakan bahwa rasa memiliki suatu akan tumbuh jika sejak awal kegiatan masyarakat sudah diikut sertakan, jika rasa memiliki ini bisa ditumbuh kembangkan dengan baik maka peran serta akan dapat dilestarikan. Kader kesehatan yang berpengalaman dalam melakukan kegiatan di Posyandu membuat rasa ikut memiliki dan bertanggung jawab terhadap kegiatan Posyandu sehingga membuat mereka memiliki sikap postif yaitu berpartisipasi dengan cukup baik.
Sikap yang dilihat dalam penelitian ini adalah tentang peran serta kader dalam kegiatan posyandu khususnya tentang peran serta nya ditiap tahap kegiatan posyandu dan peran sertanya pada tiap sasaran posyandu. Perubahan yang bermakna antara sikap sebelum dengan sikap setelah penyuluhan menunjukkan bahwa informasi baru baik yang diberikan secara formal dan informal dapat meningkatkan pengetahuan seseorang, dimana pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap yang makin positif terhadap suatu objek.

5.5 Kesimpulan
Hasil penelitian dari pengetahuan dan sikap kader tentang peran serta kader dalam kegiatan posyandu sebelum dan setelah penyuluhan di Desa Bojongmekar Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat, dapat diambil simpulan sebagai berikut : sebelum diberikan penyuluhan, tingkat pengetahuan kader sebagian besar yaitu cukup dan sikapnya positif, namun terdapat 32% yang sikapnya negatif, setelah diberikan penyuluhan, tingkat pengetahuan kader sebagian besar baik dan sikapnya positif, namun kader dengan sikap negatif turun menjadi 9%, pengetahuan dan sikap mengalami perbedaan kearah yang lebih baik dan secara statistik bermakna.

6.6 Saran
Demi berkembangnya pengetahuan kader dalam kegiatan posyandu serta untuk meningkatkan motivasi kader diharapkan pihak puskesmas, bidan desa dan instansi yang terkait lainnya untuk mengadakan penyuluhan bagi kader secara terjadwal dan berkesinambungan di Desa Bojongmekar dengan melibatkan stakeholder seperti camat dan tokoh masyarakat. Perlunya diadakan penelitian lebih lanjut kepada seluruh kader baik aktif maupun tidak aktif  untuk mengetahui apakah ada hubungan antara karakteristik terhadap perubahan pengetahuan dengan sikap kader sebelum dan setelah penyuluhan.

Daftar Pustaka
Departemen Dalam Negeri RI. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.411.3/1116/SJ, tentang Pedoman Revitalisasi Posyandu. Jakarta. 2001.
Prawirohardjo. Ilmu kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008.
Zulkifli. Posyandu dan kader kesehatan. 2008.
Wawan A. Teori dan pengukuran pengetahuan, sikap dan perilaku manusia. Yogyakarta : Nuha medika, 2010 ; 11-38.
Departemen Kesehatan RI. Pedoman umum  pengelolaan  posyandu,  Jakarta. 2006.
Depkes  RI. Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan, Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Jakarta.1990
Depkes RI. Promosi posyandu, pedoman untuk LKMD, Kanwil Depkes Propinsi Jawa Timur, Jakarta. 1991.
Notoatmodjo S. Promosi kesehatan   dan  ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta, 2007; 24-28.
Azwar S. Sikap manusia dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007: 11-121.
Puspassari A. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja kader posyandu di Kota Sabang Provinsi Nangro Aceh Darussalam. 2002. Diakses pada tanggal 9 Juni 2011
Arikunto, S.  Prosedur penelitian : suatu pendekatan praktek, edisi revisi v, Jakarta. Rineka Cipta. Jakarta, 2002.
Nursalam.  Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan pedoman skripsi, tesis dan instrumen penelitian. Jakarta : Salemba Medika. 2003; 124.
Dahlan S. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan. Jakarta : Salemba Pustaka. 2009 ; 18-20.
Machfoedz I, Zein AY, Suryani E, Suherni, Sujiyatini. Teknik membuat alat ukur penelitian. Yogyakarta : Fitramaya. 2005 : 11-12
Setiawan A, Saryini. Metodologi penelitian kebidanan DIII, DIV, SI dan S2. Yogyakarta: Nuha Medika. 2010;98
Sari Silviani A. Pengetahuan kader dalam kegiatan posyandu berdasarkan karakteristiknya di Desa Cisarandi Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur. Bandung. 2010.
Widiastuti I.G. Pemanfaatan pelayanan posyandu di Kota Denpasar 2006.